• ASKEP KLIEN LANSIA DENGAN TUBERCULOSIS PARU

IKLAN1
• ASKEP KLIEN LANSIA DENGAN TUBERCULOSIS PARU: "• ASKEP KLIEN LANSIA DENGAN TUBERCULOSIS PARU

• Permasalahan yg tjd pd usia lanjut Berkaitan dengan TB paru
• makin besar jumlah lansia yg berada dibawah garis kemiskinan
• Berkaitan pencapaian kesejahteraan
- ketidakberdayaan fisikà ketergantungan pd orang lain
- ketidakpastian ekonomi à butuh perubahan total pd pola hidup
- pasangan sudah meninggalà perlu teman baru

• KONSEP DASAR
• Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi yang terutama disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
• Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.
• Tuberculosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan ditandai oleh pembentukkan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai-sel (Cell-mediated hypersensivity).
• Penyakit ini biasanya terletak diparu, tetapi dapat mengenai organ lain.
• MENUA= menjadi tua (“aging”)
• “Suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita”.
• (Constantinides, 1994)
• (2) “Suatu proses yang mengubah manusia dewasa dari keadaan sehat menjadi rapuh dengan berkurangnya
• cadangan kemampuan sistim fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan diikuti kematian.”
• (Richard A. Miller, 2003)
• (3) “Menua adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan memelihara homeostasis pada kondisi tekanan fisiologis, kegagalan yang berkaitan dengan penurunan kemampuan untuk tetap hidup dan peningkatan kerentanan pada individu.”
• (Alex Comfort)
• ETIOLOGI
• Etiologi penyakit ini adalah dari jenis Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis. Jarang ditemukan Mycobacterium avium.
• PERUBAHAN RESPIRASI
• Peningkatan komplain dinding dada
• Hilangnya recoil elastik alveoli
• Penurunan masa otot respirasi
• Degenerasi epitel dan kelenjar bronkhi
• Osteoporosis toraks, vertebra, kostae
• Penurunan elastisitas dan kalsifikasi tulang rawan iga
• IMPLIKASI KLINIK:
• Kapasitas vital menurun
• Difusi oksigen terganggu, efisiensi respirasi menurun
• Refleks batuk menurun
• Kifosis dan peningkatan kekakuan dinding dada
• Kapasitas cadangan fungsional pernapasan terganggu
• Kepekaan terhadap pneumonia meningkat
• Mudah gagal respirasi
• MANIFESTASI KLINIS Tb paru
• Demam
• Umumnya subfebris, kadang-kadang 40-41 oC. keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringanya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
• Batuk
• Terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk ini dpenrlukan untuk membuang produk radang, sifat batuk dimulai batuk kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum/dahak) keadaan yang lanjut berupa batuk darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada dinding beonkus.
• Sesak napas.
• Pada gejala awal atau ringan belum dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjuut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
• Nyeri dada.
• Gejala ini dapat ditemukan bila infiltrasi radang sudah sampai pada pleura sehingga menimbulkan pleuritis, akan tetapi gejala ini akan jarang ditemukan.
• Malaise.
• Penyakit tubercukolsis paru bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan anoretia, badan makin kurus, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, timbul secara tidak teratur (ilmu penyakit dalam, 1996).
• PENATALAKSANAAN
• Medikasi :
• Rifampisin, dengan dosis 10-15 mg/kg BB/ hari, diberikan 1 kali sehari peroral, diminum dalam keadaan lambung kosong, diberikan selama 6-9 bulan.
• INH (isoniazid), bekerja bakterisidal terhadap basil yang berkembang aktif ekstraselular dan basil di dalam makrofag. Dosis INH 10-20 mg/kgBB/hari per oral, lama pemberian sampai 18-24 bulan.
• Streptomisi, bekerja bakterisidal hanya terhadap basil yang tumbuh aktif ekstraseluler, cara memberikannya intramuscular dengan dosis 30-50 mg/ kgBB/hari maksimum 750 mg/hari; diberikan setiap hari selama 1-3 bulan, dilanjutkan 2-3 kali seminggu selama 1-3 bulan lagi.
• Medikasi :
• Pirazinamid, bekerja baktersidal terhadap basil intraseluler; dosis 30-35 mg/kgBB/hari peroral, 2 kali sehari selama 4-6 bulan.
• Etambutol (belum jelas apakah bakterisidal atau bakteriostatik). Dosis 20 mg/kgBB/hari dalam keadaan lambung kosong, 1 kali sehari selama 1 tahun.
• Medikasi :
• PAS (para-aminosalisilat) sebagai bakteriostatik, dosisnya 200-300 mg/kgBB/hari, secara oral 2-3 kali sehari. Obat ini jarang dipakai karena dosisnya tinggi kurang menyenangkan pasien. Jika diberikan lamanya 1 tahun. Sekarang pemberian obat yang terbaik adalah kombinasi INH dan rifampisin atau etambutol dan INH dengan/tanpa streptpmisin tergantung derajat penyakit.
• Medikasi :
• Kortikosteroid, diberikan bersama-sama dengan obat anti tuberculosis yang masih sinsitif; diberikan dalam bentuk kortison dengan dosis 10-15 mg/kgBB/hari. Bila dalam bentuk prednisone dosis 1-3 mg/mgBB/hari. Kortikosteroid diberikan sebagai antiflogostik dan ajuvan pada tuberculosis milier, meningitis serosa tuberkulosa, pleuritis tuberkulosa, penyebaran bronkogen, atelektasis, tuberculosis berat atau keadaan umum yang buruk.
• PENGKAJIAN FOKUS
– Lakukan pengumpulan riwayat kesehatan dan pemeriksaan kesehatan yang lengkap.
– Lakukan pengkajian pernapasan yang menggali adanya demam, anoreksia, penurunan berat badan, berkeringat damam, keletihan, batuk, dan produksi sputum.
– Kaji perubahan suhu tubuh, frekuensi pernapasan, jumah dan warna sekresi, frekuensi dan keparahan batuk dan nyeri dada.
.
• PENGKAJIAN FOKUS
– Evaluasi bunyi napas terhadap konsolidasi ( takterdenar, bronchial, atau bising bronkovesikular, krakles). Fremitus, efogoni, dan perkusi (pekak).
– Kaji terhadap perbesaran nodus limfe termasuk nyeri.
– Kaji kesiapan emosional untuk belajar, persepsi dan pengertia tentang TB.
– Tinjau ulang hasil pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium
• Pemeriksaan penunjang
• Uji kulit TB
• Reaksi local yang terdapat pada uji Mantoux terdiri atas :
– Eritema karena vasodilatasi primer.
– Edema karena reaksi antara antigen yang disuntikkan dengan antibody.
– Indurasi yang dibentuk oleh sel mononukleus.
• Kultur sputum
• Roentgen dada
• DIAGNOSA KEPERAWATAN
– Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di saluran pernapasan.
– Gangguan pola napas tidak efektif berhubungan dengan sesak napas sekunder obstruksi saluran napas.
– Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolus mengalami eksudasi.
• DIAGNOSA KEPERAWATAN
– Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurang asupan makan sekunder; anoreksia, mual muntah.
– Gangguan pola istirahat berhubungan dengan batuk terus menerus.
– Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan dan kelemahan.
– Gangguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan demam.
– Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan batuk terus menerus sekunder inhalasi droplet.
• Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di saluran pernapasan.
• Kaji fungsi pernapasan, contoh bunyi napas, kecepatan, irama dan kedalam dan penggunaan otot aksesori.Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efktif; catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
• Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi.
• Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam.
• Bersihkan sekret dari mulut dan trakea; penghisapan sesuai keperluan.
• Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
• Kolaborasi :Lembabkan udara/oksigen inspirasi.
• Gangguan pola napas tidak efektif berhubungan dengan sesak napas sekunder obstruksi saluran napas.
• Selidiki etiologi gagal pernapasan.
• Observasi pola napas.
• Catat frekuensi pernapasan, jarak antara pernapaan spontan dan napas ventilator.
• Auskulatasi dada secara periodik, catat adanya/tak adanya dan kualitas bunyi napas, bunyi napas tambahan, juga simetrisitas gerakan dada.
• Tinggikan kepala tempat tidur atau letakan pada kursi ortopedik bila mungkin.
• Periksa selang terhadap obstruksi, contoh terlipat atau akumulasi air.
• Bantu pasien dalam kontrol pernapasan bila penyapihan diupayakan/dukungan ventilator dihentikan selama prosedur/aktivitas.
• Kolaborasi :
• Kaji susunan ventilator secara rutin dna yakinkan sesuai
• yakinkan bahwa aliran oksigen tepat/tabung; awasi analisa oksigen atau lakukan analisa oksigen periodik. Catat perubahan dai pemberian volume yang terbaca pada komputer.
• Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolus mengalami eksudasi.
• Kaji dispnea, takipnea, tak normal/menurunnya bunyi napas, peningkatan upaya pernapaan, terbatasnya ekspansi dinding dada, dan kelemahan.
• Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran.
• Catat sianosis dan/atau perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku.
• Tunjukkan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi, khusunya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
• Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawtan diri sesuai keperluan.
• Kolaborasi:
• Berikan oksigen tambahan yang sesuai.
• Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurang asupan makan sekunder; anoreksia, mual muntah.
• Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan/ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare.
• Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tak disukai.
• Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan secara periodik.
• Selidiki anoreksia, mual, dan muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat awasi frekuensi volume, konsistensi feses.
• Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
• Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
• Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan pasien kecuali kontrindikasi.
• Kolaborasi :Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh BUN, protein serum dan albumin.
• Gangguan pola istirahat berhubungan dengan batuk terus menerus.
• Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan dan kelemahan.
• Tingkatkan tirah baring/duduk.
• Berikan lingkungan tenang; batasi pengunjung sesuai keperluan.
• Ubah posisi dengan sering.
• Berikan perawatan kulit yang baik.
• Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
• Tingkatkan penggunaan teknik menajemen stres, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi.
• Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, radio, membaca.
• Kolaborasi :Berikan obat sesuai indikasi: sedatif , obat pencaha dahak, obat penekan batuk.
• Gangguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan demam.
• Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan batuk terus menerus sekunder inhalasi droplet.
• Kaji patologi penyakit (aktif/fase tak aktif; diseminasi infeksi melalui bronkus untuk membatasi jaringan atau melalui aliran darah/sistem limfatik) dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicra, tertawa, menyanyi.
• Identifikasi orang lain yang berisiko, contoh anggota rumah, sahabat karib/teman.
• Ajurkan pasien untuk batuk/bersin dan mengelaurkan pada tisu dan menghindari meludah.
• Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat.
• Dorong untuk mengulangi demonstrasi.Kaji tindakan kontrol infeksi sementara, contoh masker atau isolasi pernapasan.Awasi suhu sesuai indikasi.
• Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat.
• Kolaborasi :Berikan agen antiinfeksi sesuai indikasi, contoh: obatn utama: isoniazid (INH) etambutol (Myambutol); rifampin (RMP/rifadin).
• Daftar Pustaka
• Isselbacher, Kurt J, 1999, Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Ed. 13, EGC, Jakarta
• Baughman, Diane C, 2000, Keperawatan Medikal-bedah: buku saku untuk Brunner dan Suddarth, EGC, Jakarta
• Ngastiyah, 1997, Perawatan anak sakit/Ngastiyah, EGC, Jakarta
• Braunwald, 1991, Kelaianan karena agen biologic dan lingkungan. Ed. 11, EGC, Jakarta
• Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku ajar keperawatan medical-bedah Brunner & Suddarth. Vol. 3. ed. 8, EGC, Jakarta
• Hidayat, Aziz Alimul A, 2006, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak/A. Aziz Alimul Hidayat. Edisi pertama, Jil. 2, Salemba Medika, Jakarta
lihat artikel selengkapnya - • ASKEP KLIEN LANSIA DENGAN TUBERCULOSIS PARU
IKLAN2

Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Khusus (Matra)

IKLAN1
Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Khusus (Matra): "


Kesehatan Matra merupakan salah satu program kesehatan pada Subdin P2PLP dengan ruang lingkup kegiataannya meliputi :


a. Program Kesehatan Haji


Program Kesehatan Haji secara umum bertujuan meningkatkan kondisi kesehatan calon/jemaah haji Indonesia serta terbebasnya masyarakat Indonesia/Internasional dari transmisi penyakit menular yang mungkin terbawa keluar/masuk oleh calon/jemaah haji Indonesia.


Sasaran program kesehatan haji Kabupaten Lampung Selatan adalah calon/jemaah Lampung Selatan sejak terdaftar sampai kembali dari Arab Saudi dan petugas/tenaga kesehatan.


Target program kesehatan Haji yaitu : Puskesmas yang melaksanakan pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji dapat melaksanakan pemeriksaan, rujukan dan pembinaan kesehatan sesuai dengan standar dan prosedur; cakupan pemeriksaan calon jemaah haji 100%; cakupan tes kehamilan calon jemaah haji wanita PUS 100%; cakupan imunisasi meningitis meningokokus tetravalent dengan IP 9 100 %; cakupan pelacakan K3JH 100%.


Hasil cakupan pemeriksaan kesehatan haji Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 mencapai angka 83,7%. Cakupan tes kehamilan terhadap calon jemaah haji wanita (WUS) sebanyak calon jemaah (100%); cakupan imunisasi meningitis meningokokus kepada 516 calon jemaah; cakupan pelacakan K3JH 100%.




Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP



Pemeriksaan kesehatan haji I di wilayah Kabupaten Lampung Selatan sepanjang tahun 2007 dilaksanakan di tiga (3) puskesmas yaitu puskesmas Kalianda sebanyak 382 calon jemaah, Gedong tataan sebanyak 15 calon jemaah dan Puskesmas Natar sebanyak 35 calon jemaah.


Pemeriksaan kesehatan haji ke II dilaksanakan di Kabupaten terhadap 432 calon jemaah haji pada saat manasik haji dan 2 calon jemaah meninggal dunia sebelum melakukan manasik haji.


Jumlah calon jemaah haji pria 224 orang dan jumlah wanita sebanyak 292 orang. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap calon jemaah haji diperoleh hasil diagnosis yaitu sebagai berikut, sehat sejumlah 327 orang, Lanjut usia ada 115 orang, yang menderita hypertensi ada 67 orang, gastritis ada 83 orang, Hipotensi ada 8 orang, epilepsi ada 1 orang, yang mengidap rematik ada 59 orang, yang mengidap alergi ada 27 orang, yang asma bronkhitis ada 24 orang, serta Penderita Diabetes Mellitus ada 24 orang. Perlu diketahui bahwa ada beberapa calon jemaah haji yang mengidap lebih dari satu jenis penyakit.



Sumber : Hasil Evaluasi Program P2PLP




a. Program Kegiatan dalam Situasi Khusus


Program kesehatan dalam situasi khusus pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan dilaksanakan pada even-even sebagai berikut :


1. Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.


2. Festival Krakatau.


3. Musabaqoh Tilawatil Qur’an.


4. Pameran Pembangunan.


5. Hari Besar Nasional.


6. Pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji.



Dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut diatas sangat mungkin mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan seperti gangguan fisik, mental dan konflik social bahkan terjadinya gangguan penyakit menular berupa kejadian luar biasa, yang disebabkan perubahan kondisi lingkungan fisik, biologis dan social. Untuk itu diperlukan suatu upaya/program yang dimaksudkan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin timbul tersebut.


Secara khusus program kegiatan di situasi khusus bertujuan terselenggaranya upaya pelayanan kesehatan dengan baik pada pos P3K yang telah ditentukan; terlayaninya kesehatan masyarakat yang terpajan kondisi kesehatannya; terbinanya kerjasama lintas program dan lintas sector dengan instansi terkait seperti Kepolisian, Dinas Perhubungan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, PMI dan lain-lainnya.


Adapun hasil kegiatan tahun 2007 terdapat 9 (sembilan) posko kesehatan yaitu, Posko Pelabuhan Bakauheni, Posko Simpang Ketapang, Posko Merak Belantung, Posko THR Pasir Putih, Posko Pasar Natar, Posko Bundaran Hajimena, Posko Tanjung Bintang, Posko Gedung Tataan, dan Posko Hanura. Dari data yang dihimpun selama penyelenggaraan pelayanan kesehatan P3K hari raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru 2007 diketahui terdapat 9 orang korban kecelakaan lalu lintas dimana 5 korban meninggal dunia, 4 korban dirujuk ke puskesmas/rumah sakit.



b. Program Penanggulangan Bencana



Hasil Pelaksanaan Program Penanggulangan Bencana di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2007 telah terbentuk Tim Sar Kabupaten dalam penanggulangan bencana. Jumlah kejadian bencana alam selama tahun 2007 yaitu 17 kejadian (Kebakaran, Angin Puting Beliung/Angin Topan, Banjir, Hujan Debu, Gelombang Pasang dll) yang menimbulkan 703 rumah rusak dan 12 sarana umum, sedangkan jumlah kejadian bencana yang terjadi selama tahun 2006 yaitu sebanyak 7 kejadian (bencana banjir, angin puting beliung, dan gempa bumi) walaupun dari beberapa kejadian bencana alam tersebut tidak ada korban jiwa tapi menimbulkan kerusakan pada rumah penduduk yaitu sebanyak 495 rumah.


Secara umum penanganan bencana alam tidak mengalami hambatan karena baik sarana, prasarana, dan sumber daya manusia yang ada cukup memadai hanya saja perlu peningkatan keterampilan petugas dalam menghadapi kejadian bencana.


Dari kejadian diatas telah diberikan pelayanan kesehatan melalui puskesmas terdekat terutama untuk diwilayah kecamatan rajabasa telah dilakukan pelayanan kesehatan dan pemberian 2000 masker kepada masyarakat/penduduk yang terkena bencana hujan abu sebagai dampak dari aktifnya anak gunung krakatau.



c. Program Upaya Kesehatan Kerja


Hasil kegiatan Program Upaya Kesehatan Kerja masih terbatas yaitu terbentuknya 1 (satu) pos UKK di Puskesmas Sidoharjo, dilatihnya 5 (lima) orang kader pos UKK; tersedianya data dasar kesehatan kerja yang didapat dari hasil pengumpulan data dasar kesehatan kerja diwilayah puskesmas Sidoharjo.



Sedangkan untuk tabel 38 mengenai persentase pelayanan kesehatan kerja pada pekerja formal untuk wilayah kabupaten, di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007, data yang dimaksud tidak tersedia (target 50%).

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Khusus (Matra)
IKLAN2

Program Penyehatan Lingkungan

IKLAN1
Program Penyehatan Lingkungan: "


Era Otonomi Daerah merupakan perubahan sistem pemerintahan dari sistem sentralis ke sistem desentralis yang dititik beratkan di Kabupeten / Kota yaitu pelimpahan wewenang pemerintah Pusat ke pemerintah di Daerah.


Salah satu pelimpahan wewenang sebagian urusan diatas adalah bidang kesehatan. Pembangunan dibidang kesehatan merupakan pembangunan berkelanjutan yang mengacu pada visi, misi, kebijakan dan strategi pada ” Indonesia sehat 2010 “. Kebijakan yang terkait dengan kesehatan lingkungan adalah mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat. Strategi yang dijalankan yaitu pembentukan lingkungan dan perilaku sehat pada sasaran wilayah sehat, tempat tempat umum sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat, rumah dan bangunan sehat.


Implementasi ” Indonesia sehat 2010 “ tertuang pada Lampung Selatan Sehat adalah tercapainya suasana lingkungan permukiman yang aman, nyaman dan sehat, tercapainya kawasan pariwisata sehat dan tercapainya kawasan industri yang memenuhi syarat kesehatan. Lingkungan secara menyeluruh di Kabupaten Lampung Selatan, jika di pandang dari sudut kesehatan lingkungan merupakan lingkungan yang kurang sehat. Hal ini diindikasikan dengan tingginya angka penyakit yang ditularkan melalui lingkungan seperti ISPA, influensa, diare, malaria, thypus, disentri, bronchitis, TB Paru, dan campak. Upaya pengendalian penyakit dilakukan dengan memutuskan mata rantai penularan dengan cara perbaikan kualitas air dan rumah, dan memperbaiki sanitasi sarana air bersih dan jamban keluarga.


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Program Penyehatan Lingkungan
IKLAN2

KESEHATAN LINGKUNGAN

IKLAN1
KESEHATAN LINGKUNGAN: "

Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih, persampahan dan sanitasi, yaitu kebutuhan akan air bersih, pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal tersebut menyebabkan pandangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai karena sampah. Pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit.


Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi yang kurang baik serta pembuangan sampah dan air limbah yang kurang baik diantaranya adalah:




  1. Diare

  2. Demam berdarah

  3. Disentri

  4. Hepatitis A

  5. Kolera

  6. Tiphus

  7. Cacingan

  8. Malaria



kesling2.jpg


Mengapa BAB harus sehat??kenapa jamban yang kita miliki harus sehat??? mungkin ini yang belum pernah terpikirkan oleh sebaian besar masyarakat pedesaan kita. dari penjelasan di atas sudah dapat diketahui penyakit yang timbul akaibat BAB dan jamban tidak sehat. jamban sendiri Merupakan tempat penampung kotoran manusia yang sengaja dibuat untuk mengamankannya, dengan tujuan:



  1. Mencegah terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia.

  2. Mencegah vektor pembawa untuk menyebarkan penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya


kesling11.jpg Lalat yang hinggap disampah dan dipermukaan air limbah atau tikus selokan yang masuk kedalam saluran air limbah dapat membawa sejumlah kuman penyebab penyakit. Bila lalat atau tikus tersebut menyentuh makanan atau minuman maka besar kemungkinan orang yang menelan makanan dan minuman tersebut akan menderita salah satu penyakit seperti yang tersebut diatas. Demikian pula dengan anak-anak kecil yang bermain atau orang dewasa yang bekerja didekat atau mengalami kontak langsung dengan air limbah dan sampah dapat terkena penyakit seperti yang tersebut diatas, terutama bila tidak membersihkan anggota badan terlebih dahulu.



  1. Air limbah dapat dikelompokkan kedalam 2 bagian, yaitu:

  2. Air bekas yang berasal dari bak atau lantai cuci piring atau peralatan rumah tangga, lantai cuci pakaian dan kamar mandi

  3. Lumpur tinja yang berasal dari jamban atau water closet (WC)


Tangki septic atau unit pengolahan air limbah terpusat diperlukan guna mengolah air limbah sebelum dibuang kesuatu badan air. Disamping untuk mencegah pencemaran termasuk diantaranya organisme penyebab penyakit, pengolahan air limbah dimaksudkan untuk mengurangi beban pencemaran atau menguraikan pencemar sehingga memenuhi persyaratan standar kualitas ketika dibuang kesuatu badan air penerima.


Sampah dan air limbah mengandung berbagai macam unsur seperti gas-gas terlarut, zat-zat padat terlarut, minyak dan lemak serta mikroorganisme. Mikroorganisme yang terkandung dalam sampah dan air limbah dapat berupa organisme pengurai dan penyebab penyakit. Penanganan sampah dan air limbah yang kurang baik seperti:



  1. Pengaliran air limbah ke dalam saluran terbuka

  2. Dinding dan dasar saluran yang rusak karena kurang terpelihara


Pembuangan kotoran dan sampah kedalam saluran yang menyebabkan penyumbatan dan timbulnya genangan akan mempercepat berkembangbiaknya mikroorganisme atau kuman-kuman penyebab penyakit, serangga dan mamalia penyebar penyakit seperti lalat dan tikus.


Suatu badan air seperti sungai atau laut mempunyai kapasitas penguraian tertentu. Bila air limbah langsung dimasukkan begitu saja kedalam badan air tanpa dilakukan suatu proses pengolahan, maka suatu saat dapat menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran tersebut berlangsung bila kapasitas penguraian limbah yang terdapat dalam badan air dilampaui sehingga badan air tersebut tidak mampu lagi melakukan proses pengolahan atau penguraian secara alamiah. Kondisi yang demikian dinamakan kondisi septik atau tercemar yang ditandai oleh:



  1. Timbulnya bau busuk

  2. Warna air yang gelap dan pekat

  3. Banyaknya ikan dan organisme air lainnya yang mati atau mengapung


Sumber : Dinsum Indonesia

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - KESEHATAN LINGKUNGAN
IKLAN2

Kondar = Kontrasepsi darurat

IKLAN1
Kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan setelah hubungan seksual.
lihat artikel selengkapnya - Kondar = Kontrasepsi darurat
IKLAN2

Konseting

IKLAN1
Suatu proses komunikasi dua arah yang sistemik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecalikan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan.
lihat artikel selengkapnya - Konseting
IKLAN2

Komnas PGPKT = Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian

IKLAN1
Komite nasional yang dibentuk untuk menanggulangi gangguan pendengaran dan ketulian sesuai dengan rencana strategi nasional PGPKT
(S umber: Rencana Strategi Nasional PGPKT Departemen Kesehatan RI Di jen Bina Kesmas tahun 2005)
lihat artikel selengkapnya - Komnas PGPKT = Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian
IKLAN2

Kompetensi

IKLAN1
Pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap (attitude) yang dimiliki oleh seseorang dalam suatu bidang/ standar tertentu, dan hal itu akan tercermin dalam konteks pekerjaan yang dipengaruhi oleh budaya organisasi dan lingkungan kerja.
lihat artikel selengkapnya - Kompetensi
IKLAN2

Komnas PGPK = Komitc Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan

IKLAN1
Komite nasional yang dibentuk untuk menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutaan sesuai dengan rencana strategi nasional PGPK
(Sumber: Kep Menkes RI No. 1 131/Meskes/,SK/X/2004)
lihat artikel selengkapnya - Komnas PGPK = Komitc Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan
IKLAN2

OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT

IKLAN1
OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT: "

OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT

SUSUNAN SARAF PUSAT
Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain : mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
SUSUNAN SARAF PUSAT
OTAK DEPAN
Kortek serebrum
Ø Untuk menentukan perilaku yang bertujuan dan beralasan
Ø lobus frontalis : pusat berfikir, berperilaku, penentuan keputusan
Ø lobus parietalis : pusat pendengaran dan perabaan
Ø lobus oksipitalis : pusat asosiasi visual
Ø lobus temporalis : pusat auditorik
Diencefalon
Ø Thalamus : menerima semua informasi sensorik
Ø Hipothalamus : Endokrin, mengarahkan informasi mengenai suhu, rasa lapar, aktivitas susunan saraf otonom,status emosi
BATANG OTAK
Ø terdiri dari : pons, medula oblongata, mesensefalon
Ø terdapat neuron-neuron yang mengatur fungsi sistem kardiovaskuler dan respirasi
SEREBELUM
Ø Membantu mempertahankan keseimbangan dan bertanggung jawab bagi respon otak
OTAK BESAR
OTAK BESAR
OTAK BESAR
OTAK BESAR
POTONGAN SAGITAL OTAK
OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT
1. AMFETAMIN
Ø Indikasi : untuk narkolepsi, gangguan penurunan perhatian
Ø Efek samping : Euforia dan kesiagaan, tidak dapat tidur, gelisah, tremor, iritabilitas dan beberapa masalah kardiovaskuler (Tachicardia, palpitasi, aritmia, dll)
AMFETAMIN
AMFETAMIN

Ø Farmakokinetik : waktu paruh 4-30 jam, diekskresikan lebih cepat pada urin asam daripada urin basa
Ø Reaksi yang merugikan : menimbulkan efek- efek yang buruk pada sistem saraf pusat, kardiovaskuler, gastroinstestinal, dan endokrin.
Ø dosis : Dewasa : 5-20 mg
Anak > 6 th : 2,5-5 mg/hari
2. METILFENIDAT
Ø indikasi : pengobatan depresi mental, pengobatan keracunan depresan SSP, syndrom hiperkinetik pada anak
Ø efek samping : insomnia, mual, iritabilitas, nyeri abdomen, nyeri kepala, Tachicardia
Ø Kontraindikasi : hipertiroidisme, penyakit ginjal.
METILFENIDAT
Ø Farmakokinetik : diabsorbsikan melalui saluran cerna dan diekskresikan melalui urin, dan waktu paruh plasma antara 1-2 jam
Ø Farmakodinamik : mula- mula :0,5 – 1 jam P : 1 – 3 jam, L : 4-8 jam.
Ø Reaksi yang merugikan : takikardia, palpitasi, meningkatkan hiperaktivitas.
Ø dosis pemberian :
Anak : 0.25 mg/kgBB/hr
Dewasa : 10 mg 3x/hr
3. KAFEIN
Ø indikasi : menghilangkan rasa kantuk, menimbulkan daya pikir yang cepat, perangsang pusat pernafasan dan fasomotor, untuk merangsang pernafasan pada apnea bayi prematur
Ø efek samping : sukar tidur, gelisah, tremor, tachicardia, pernafasan lebih cepat
Ø Kontraindikasi : diabetes, kegemukan, hiperlipidemia, gangguan migren, sering gelisah (anxious ).
KAFEIN
KAFEIN
Ø Farmakokinetik : kafein didistribusikan keseluruh tubuh dan diabsorbsikan dengan cepat setelah pemberian, waktu paruh 3-7 jam, diekskresikan melalui urin
Ø Reaksi yang merugikan : dalam jumlah yang lebih dari 500 mg akan mempengaruhi SSP dan jantung.
Ø dosis pemberian : apnea pada bayi : 2.5-5 mg/kgBB/hr, keracunan obat depresan : 0.5-1 gr kafein Na-Benzoat (Intramuskuler)
4. NIKETAMID
Ø Indikasi : merangsang pusat pernafasan
Ø efek samping : pada dosis berlebihan menimbulkan kejang
Ø farmakokinetik : diabsorbsi dari segala tempat pemberian tapi lebih efektif dari IV
Ø dosis : 1-3 ml untuk perangsang pernafasan
NIKETAMID
5. DOKSAPRAM
Ø Indikasi : perangsang pernafasan
Ø Efek samping : hipertensi, tachicardia, aritmia, otot kaku, muntah
Ø farmakokinetik : mempunyai masa kerja singkat dalam SSP
Ø Dosis : 0.5-1.5 mg/kgBB secara IV
DOXAPRAM
DOXAPRAM
PROSES KEPERAWATAN PERANGSANG SSP
Ø Pengkajian
Tentukan apakah ada riwayat penyakit jantung, hipertensi, hipertiroidisme, atau glaukoma.
Periksa tanda-tanda vital.
Ø Perencanaan : klien akan diberikan perangsang SSP yang diresepkan dan tidak akan mengalami efek samping.
Ø Intervensi keperawatan
Periksa denyut jantung dan tekanan darah, laporkan jika terdapat takikardia, denyut jantung yang iregular atau peningkatan tekanan darah.
Berikan amfetamin dan obat-obatan yang menimbulkan anoreksia kira-kira 6-8 jam sebelum tidur.
Periksa efek samping dari perangsang SSP.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT
IKLAN2

ASKEP kebutuhan oksigenasi

IKLAN1
RESUM ASKEP kebutuhan oksigenasi: "RESUM ASKEP kebutuhan oksigenasi

DATA PERSONAL
Tanggal pengkajian : 17 juni 2008
Nama lengkap : NY S
No medrek : 084901
Jenis kelamin : Perempuan
Tangal lahir/ umur : 12 mei 1964
Alamat : karang godang. Semarang
Dx medis : PPOK
RIWAYAT PENYAKIT
Keluhan utama adalah sesak napas disertai batuk berdahak,
Apkah anda pernah mengalami masalah respiraterring perubahan bunyi napas? Ya,bunyi whesing
Apakah anda pernah mengalami sakit pernapasan? Ya, bronchitis.
Bila anda terserang flu dan batuk, berapa lama anda mengalaminya? 2 minggu.
Apakah anda pernah mndaptkn pengobatan penykt pernapasan? ya
Bagaimana presepsi anda tentang penyakit ini? Tampak sakit berat
PENGKAJIAN FISIK
Keadaan umum pasien
Composmentis
Tampak sakit berat
Pertumbuhan fisik dengan TB 160cm dan BB 40 kg
Status gizi kurang
TTV
Tekanan darah 200/100 mmHg
Nadi 82X/menit
Suhu 37oc dengan tempat pengambilan axsila
Respirasi18x/menit
Keadaan kulit baik
Turgor elastic
Pemeriksaan penunjang
Hb :12,1 g/dl dengan nilai normal 12-15 gr/dl
Hematrokit : 35% dengan nilai normal40-54%
Trombosit : 232000/mms dengan nilai normal 4-11rb/mms
GDS 280
Glukosa sewaktu 198 mg/dl dengan nilai normal 70-115 mg/dl
Terapi
Infuse Rl 20 tpm
Ciprofloxacin infuse
Combixent amp 1
Salbutamol tab mg 2.3 x2 mg
Captopril tab mg 12,5 x3
As. Mefemanat tab. Mg 500
Prepnisin 3x1
D. ASUHAN KEPRAWATAN
1. Pengelompokan data
Ds :
1. Pasien mengeluh sesak nafas
2. Pasien mengatakan jika makan sesak
3. Pasien mngataan perut terasa sakit jika ditekan
4. Pasien tidak bias tidur selama 4 hari
5. Pasien mengatakan saat batuk tidak bias mengeluarkan sputum
6. Pasien mengeluh pusing
7. Tidak bias tidur selama 3 hari
Do:
1. Batuk berdaha tetapi sputum tidak biasa dikeluarkan
2. Terpasang kanula nasal 4 liter
3. Terpasang infuse Rl 20 tpm
4. TTV:
a. Suhu : 37oc
b. RR : 24 x/ menit
c. Nadi : 82 X/ menit
d. TD : 200/100 mmHg
5. Pasien terlihat sesak napas
2. Analisa data
Dx
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dangan akumulasi secret yang di tanda dengan pasien mengeluh sesak, pasien mengatakan saat batuk tidak bias mengeluarkan secret, batuk berdahak. Terdapat suara tambahan wezhing
Pertukaran gas berhubungan dengan ganggungan suplai oksigen yang ditandai dengan pasien mengeluh sesak napas, pusing, jika makan dada terasa sesak, pasien tidak bisa mengeluarkan sekret, terpasang kanula nasal 4 liter, infuse Rl 20 tpm

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ASKEP kebutuhan oksigenasi
IKLAN2

TREMATODA(Cacing daun)

IKLAN1
TREMATODA(Cacing daun): "

TREMATODA(Cacing daun)
TREMATODA
Tubuhnya tidak bersegmen.
Bentuknya menyerupai daun atau silindris
Bersifat hermaprodit
Reproduksinya secara ovivar atau dalam bentuk larva
Infeksi terutama oleh stadium larva yang masuk usus, kadang-kadang melalui kulit.
Contoh spesies
Fasciola hepatica
Fasciolopsis buski
Paragonimus westermani
Clonorchis sinensis
Scistosoma mansoni
Schistosoma japonicum
Schistosoma haematobium
Fasciola hepatica

HOSPES
Hospes definitif : Manusia, kambing, sapi, biri-biri.
Hospes perantara I : Keong air / siput.
Hospes perantara II : Tumbuhan air।

PENYAKIT
Fascioliasis

TELUR
Ukuran : 130 – 150 mikron x 63 – 90 mikron
Warna : kuning kecoklatan.
Bentuk : Bulat oval dengan salah satu kutub mengecil.
Terdapat operkulum pada kutub yang mengecil.
Berisi sel-sel granula berkelompok।

CACING DEWASA
Bersifat hermaprodit.
Sistem reproduksinya ovivar.
Bentuknya menyerupai daun berukuran 20 – 30 mm x 8 – 13 mm.
Mempunyai tonjolan konus (cephalis cone) pada bagian anteriornya.
Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.
Uterus pendek berkelok-kelok.
Testis bercabang banyak, letaknya di pertengahan badan berjumlah 2 buah.
Ovarium sangat bercabang

SIKLUS HIDUP
Telur keluar melalui saluran empedu ke dalam feses.
Telur dalam air dalam waktu 9 – 15 hari menjadi berisi mirasidium.
Mirasidium keluar dan mencari keong air (hospes perantara pertama)
Mirasidium menjadi sporokista lalu menjadi redia.
Redia menghasilkan serkaria berekor satu dan berenang bebas.
Serkaria melekat pada tumbuhan air (hospes perantara ke-2)
Serkaria membentuk metaserkaria।

SIKLUS HIDUP (lanjut)
Metaserkaria masuk ke tubuh manusia yang mengkonsumsi tumbuhan air (seperti selada air).
Dalam duodenum larva keluar dari kista, menembus dinding usus, masuk rongga perut, menembus hati.
Dalam hati cacing tumbuh dalam saluran empedu dan menjadi dewasa.
Cacing dewasa akan melakukan pembuahan sel telur dan trjadi perkembangan telur yang akan diletakkan pada uterus.
Saat cacing gravid mengeluarkan telur, maka akan tercampur ke dalam feses manusia।

EPIDEMIOLOGI
Banyak kasus di daerah yang mempunyai peternakan sapi, biri-biri dan kambing didukung oleh kebiasaan masyarakat yang suka mengkonsumsi sayuran mentah.
Masyarakagt di sekitas sungai dan area persawahan yang memiliki kebiasaan memakan siput / keong air memiliki resiko terinfeksi lebih tinggi apalagi didukung oleh kondisi higiene dan sanitasi yang kurang baik।

PENCEGAHAN
Tidak memakan sayran mentah. Apabila menkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna sehingga bisa dihindari terinfeksi oleh metaserkaria.
Pemberantasan penyakit kecacingan pada hewan ternak.
Pengobatan sempurna pada penderita।

DIAGNOSA LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan dapat berupa feses dan atau cairan duodenum.
Dari feses penderita dapat ditemukan telur atau cacing dewasa.
Dalam cairan duodenum mungkin ditemukan metaserkaria atau larva cacing.
Jumlah sel eosinofil dalam darah akan meningkat nyata

CLONORCHIS SINENSIS
HOSPES
Hospes definitif : Manusia, binatang pemakan daging mentah.
Hospes perantara I : Keong air / siput.
Hospes perantara II : Ikan।

PENYAKIT
Clonorchiasis

MORFOLOGITelur
Ukuran : 16 x 30 mikron
Dinding agak tebal.
Bentuk : oval seperti bola lampu pijar.
Terdapat operkulum pada kutub yang mengecil.
Memiliki tonjolan kecil pada bagian kutub yang membesar.
Berisi embrio (mirasidium).
Cacing dewasa
Bersifat hermaprodit.
Sistem reproduksinya ovivar.
Bentuknya menyerupai daun berukuran 10 – 25 mm x 3 – 5 mm.
Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.
Uterus pendek berkelok-kelok.
Testis bercabang, berjumlah 2 buah.
Ovarium berlobus terletak di atas testis.
Kelenjar vitelaria terletak di 1/3 tengah badan

SIKLUS HIDUP
Telur dikeluarkan bersama feses .
Telur dalam air akan menetas,
mirasidium akan keluar dan mencari hospes perantara pertama yaitu keong air (siput Bulinus / Semisulcospira).
Dalam tubuh keong mirasidium berkembang menjadi sporokista dan kemudian menjadi redia.
Redia akan menghasilkan serkaria.
Serkaria akan akan keluar dari tubuh siput dan mencari hospes perantara ke-2, yiatu ikan (Famili Cyprinidae)

SIKLUS HIDUP
Setelah masuk ke tubuh ikan, serkaria akan melepaskan ekornya dan membentuk kista (metaserkaria.)
Metaserkaria akan masuk ke tubuh manusia yang mengkonsumsi ikan
Metaserkaria akan mengalami proses ekskistasi di duodenum dan keluarlah larva.
Dengan bantuan enzim pencernaan di duodenum larva akan masuk ke ductus koledokus lalu ke saluran empedu dan menjadi dewasa dalam waktu sebulan।

PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS
Saat larva masuk dalam saluran empedu dan menjadi dewasa, parasit ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu, penebalan dinding saluran, peradangan sel hati dan dalam stadium lanjut akan menyebabkan sirosis hati yang disertai oedema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan tergantung pada jumlah cacing yang terdapat di saluran empedu dan lamanya infeksi. Gejala yang muncul dapat dikelompokkan menjadi 3 tahap, yaitu :
Stadium ringan : tidak ditemukan gejala.
Stadium progresif : terjadi penurunan nafsu makan, perut terasa penuh, diare.
Stadium lanjut : didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari pembesaran hati, ikterus, oedema dan sirosis hepatis

EPIDEMIOLOGI
Banyak kasus di daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi ikan mentah atau ikan yang diolah kurang matang। Sering ditemukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam.

DIAGNOSA LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan dapat berupa feses.
Dari feses penderita ditemukan telur yang dapat diperiksa baik dengan cara langsung maupun tak langsung।

PARAGONIMUS WESTERMANI
HOSPES
Hospes definitif : Manusia, kucing, anjing
Hospes perantara I : Keong air / siput (Melania/Semisulcospira spp)
Hospes perantara II : Ketam / kepiting।

PENYAKIT
Paragonimiasis
MORFOLOGITelur
Ukuran : 80 –120 x 50 – 60 mikron
Bentuk oval cenderung asimetris.
Terdapat operkulum pada kutub yang mengecil.
Ukuran operkulum relatif besar, sehingga kadang tampak telurnya seperti terpotong.
Berisi embrio
Cacing dewasa
Bersifat hermaprodit.
Sistem reproduksinya ovivar.
Bentuknya menyerupai daun berukuran 7 – 12 x 4 – 6 mm dengan ketebalan tubuhnya antara 3 – 5 mm.
Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.
Uterus pendek berkelok-kelok.
Testis bercabang, berjumlah 2 buah.
Ovarium berlobus terletak di atas testis.
Kelenjar vitelaria terletak di 1/3 tengah badan।

SIKLUS HIDUP
Telur dikeluarkan bersama feses । Telur yang masuk dalam air akan menetas, mirasidium akan keluar dan mencari hospes perantara pertama yaitu keong air (siput Bulinus / Semisulcospira). Dalam tubuh keong mirasidium berkembang menjadi sporokista dan kemudian menjadi redia. Redia akan menghasilkan serkaria. Serkaria akan akan keluar dari tubuh siput dan mencari hospes perantara ke-2, yiatu ikan (Famili Cyprinidae) Setelah masuk ke tubuh ikan, serkaria akan melepaskan ekornya dan membentuk kista (metaserkaria.) didalam kulit di bawah sisik. Metaserkaria akan masuk ke tubuh manusia yang mengkonsumsi ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. Metaserkaria akan mengalami proses ekskistasi di duodenum dan keluarlah larva. Dengan bantuan enzim pencernaan di duodenum larva akan masuk ke ductus koledokus lalu ke saluran empedu dan menjadi dewasa dalam waktu sebulan.

PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS
Saat larva masuk dalam saluran empedu dan menjadi dewasa, parasit ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu, penebalan dinding saluran, peradangan sel hati dan dalam stadium lanjut akan menyebabkan sirosis hati yang disertai oedema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan tergantung pada jumlah cacing yang terdapat di saluran empedu dan lamanya infeksi. Gejala yang muncul dapat dikelompokkan menjadi 3 tahap, yaitu :
Stadium ringan : tidak ditemukan gejala.
Stadium progresif : terjadi penurunan nafsu makan, perut terasa penuh, diare.
Stadium lanjut : didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari pembesaran hati, ikterus, oedema dan sirosis hepatis

EPIDEMIOLOGI
Banyak kasus di daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi ikan mentah atau ikan yang diolah kurang matang। Sering ditemukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam.

PENCEGAHAN
Tidak memakan ikan mentah. Apabila menkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna sehingga bisa dihindari terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan.
Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel।

DIAGNOSA LABORATORIUM
Bahan pemeriksaan dapat berupa feses. Dari feses penderita ditemukan telur yang dapat diperiksa baik dengan cara langsung maupun tak langsung.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - TREMATODA(Cacing daun)
IKLAN2

सिरोसिस HATI

IKLAN1
सिरोसिस HATI: "Sirosis Hati
• Perubahan Metabolisme Zat Gizi pada Sirosis Hati.
Gangguan Metabolisme Hidrat Arang : pada sirosis hati terjadi hiperinsulinisme sekunder sehingga timbul hipoglikemia yang akan merangsang pemakaian glikogen hati sehingga cadangan glikogen menurun kalau sudah berlangsung lama akan terjadi hiperglikemi. Kemudian terjadi glikoneogenesis dari asam amino didalam otot, sehingga memperbanyak masuknya AARC kedalam otot dan berakibat AARC dalam darah menurun
Gangguan Metabolisme Lemak : terjadi penurunan efektifitas lipolitik dan penurunan mobilisasi asam lemak sehingga plasma HDL rendah dan plasma trigliseria meningkat, kolesterol meningkat tetapi kadar kolesterol ester menurun
Gangguan Metabolisme Hormon : aldosteron metabolisme meningkat, menimbulkan hiperaldoteronism sekunder dengan gejala hipokalemi dan retensi cairan
• TATA LAKSANA DIIT SIROSIS HATI :
Sirosis Hati terkompensasi
Sirosis hati dekompensasi (adanya asitesdengan atau tanpa edema)
Sirosis hati dengan pendarahan saluran cerna (hemeternesis dan atau melena)
Sirosis hati dengan ensefalopati hepatic
• Sirosis Hati Terkompensasi
Energi : diberikan 40-45 kkal/kgBB/hari untuk protein sparing effect
Protein : diberikan mulai dari 1 g/kgBB/hari . Pasien dengan status gizi kurang dapat diberikan lebih tinggi. Berasal dari protein dengan nilai biologi tinggi 60-70%
Lemak : diberikan 20% dari kalori total
Karbohidrat : diberikan kurang lebih 60% dari total kalori tidak dianjurkan dari HA murni
• Syarat Diit:
Mudah cerna, dalam porsi kecil dan sering
Bahan makan yang menimbulkan gas dihindarkan
Natrium dibatasi
Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan tubuh, bisa dimulai dari cair.
• Pemilihan bahan makanan
Bahan makanan yang dibatasi : bahan makanan yang diawet mulai dari sumber HA, protein, sayur dan buah, serta bumbu yang mengandung garam dapur (kecap, terasi dan lain-lainnya )
Bahan makanan yang tidak boleh ; makanan /minuman yang sudah lewat 48 jam, makanan/minuman yang menimbulkan gas
• Sirosis Hati Dekompensasi (dengan asites dan edema )
• Fungsi hati untuk mensintesis protein endogenik sangat menurun, sehinmgga kadar protein darah rendah, berakibat penurunan tekanan onkotik, sehingga memperberat asites dan edema.
• Syarat Diit :
Mudah cerna, dalam porsi kecil dan sering
Bahan makanan yang menimbulkan gas dihindarkan
Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan
• Sirosis Hati Dengan Pendarahan Saluran Cerna (hematemesis dan melena)
• Penyabab pendarahan adalah varises esofagus pecah, gatrisis erosive dan gastropati hipertensi portal. Pada penderita dengan pendarahan saluran pencernaan akan menyebabkan kenaikan AAA dan AAN, dalam serum yang merupakan factor terjadinya ensefalopati hepatic
Penimbunan amoniak dalam otak
Akumulasi neotrasmiter palsu diotak yang dipengaruhi perbandingan asam amino aromatik dan asam amino rantai cabang, dengan rasio AARC/AAA = 1-1,5, sehingga AAA dapat masuk otak. Pada keadaan normal AARC/AAA = 3-3,5
Setelah fase ensefalopati berlalu protein diberikan secara bertahap dimulai dengan 10-20 g/hari kemudian dinaikkan lagi sehingga mencaoai 70-100 g/hari. Pemberian protei diutamakan yang mengandung banyak AARC.
Lemak : diberikan kurang lebih 20 % dari total kalori, dianjurkan lemak nabati
Karbohidrat kurang lebih 60 % dari total kalori
• Pemilihan Bahan Makanan
Bahan makanan yang tidak boleh : bahan makanan yang menimbulkan gas : ubi, kool, sawi, lobak, durian, nangka, minuman yang bergas dan alcohol, bahan makanan yang mengandung tinggi amoniak ( ayam, keju, keju kac. Tanah, gelatin, mentega )
Bahan makanan yang dibatasi : bahan makanan yang banyak mengandung AAA dan AAN


lihat artikel selengkapnya - सिरोसिस HATI
IKLAN2

TAHAP IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

IKLAN1
TAHAP IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Tujuan Pembelajaran:
Mengidentifikasi Prioritas Tindakan keperawatan yang diberikan
Memberikan asuhan keperawatan
Mengkomunikasikan data baik verbal maupun tulisan
Pengertian
Implementasi adalah melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan
Merupakan tahap keempat dari proses keperawatan
Pada tahap ini Anda siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien.
Implementasi efektif dan efisien???
Harus:
Ø Mengidentifikasi prioritas perawatan
Ø Memantau dan mencatat respons
Ø Mengkomunikasikan kepada penyedia perawatan kesehatan lain
Ø Mengevaluasi dan merevisi renpra
Identifikasi Prioritas Perawatan
Segala sesuatu yang akan terjadi setiap hari pada pasien tidak dapat diperkirakan dengan pasti
Pengetahuan, keahlian & pengenalan rutinitas institusi E fleksibilitas untuk beradaptasi terhadap kebutuhan pasien
Sambil mendengarkan dengan teliti laporan pergantian shiftEpetunjuk pertama ttg dimana akan memulai
Pada lembar kerja: catat informasi spesifik, intervensi, atau aktivitas berurutan
Tinjau renpra hasil yang harus dievaluasi selama shift, prosedur rutin, dan pemberian obat
Setelah usai laporan shift: lakukan pengkajian dasar setiap pasien→petunjuk status fisik secara umum, peralatan/suplai yang diperlukan, dan perhatian mengenai keamanan(mis:kepatenan jalur invasif; kecepatan aliran IV)
Edapat mengenali perubahan pada signifikansi atau keparahan masalah pasien yang dapat mempengaruhi renpra
CONTOH:
Gibran, yang dirawat karena pneumonia, dispnea pada pukul 07.30. Anda perlu melakukan pengkajian lebih fokus untuk menentukan kebutuhannya segera.
Pengkajian AGD; mulai memberikan O2 tambahan.
Anda memutuskan Gibran tidak boleh memakan sarapannya sambil duduk di kursi
EJadi intervensi yang diidentifikasi sebelumnya tidak tepat pada saat ini, dan intervensi ya ng baru perlu dilakukan
Ini juga merupakan saat untuk meninjau renpra dengan pasien/orang terdekat untuk menjadwalkan aktivitas dan menilai tanggung jawab pasien
Contoh 2:
Gibran telah memutuskan bahwa jika ia menderita gagal nafas, ia tidak mau dipasang ventilator mekanik. Ini bukan berarti meniadakan kebutuhan untuk intervensi bila Anda memperhatikan bahwa ia sedang mendapatkan masalah.
Anda masih perlu bertindak dengan cepat untuk mencegah atau membatasi kemunduran lebih jauh.
Oleh karena itu selain memberikan O2 dan mengkaji suara nafas dan kepatenan jalan nafas, Anda meninggikan bagian kepala tempat tidur, mendorong Gibran u/ nafas dalam dan batuk efektif scr teratur, dan memberitahu penyedia perawatan kes lainnya spt: dokter, fisioterapis, dll jika perlu, dan memberitahu anggota kelg/orang yang perlu dihubungi lainnya.
Memberikan Asuhan Keperawatan
Intervensi terdiri banyak aktivitas, mulai tugas-tugas segderhana sampai prosedur kompleks
Aktivitas ini memerlukan perawatan yang menggunakan tangan scr langsung ( spt: memandikan di TT)
Melatih pasien/org terdekat mengenai penanganan perawatan dan
Mengawasi/memonitor hasil intervensi
Sebelum mengimplementasikan intervensi, Anda harus:
E Memahami alasan untuk melakukan intervensi, efek yang diharapkan, dan bahaya yang mungkin terjadi
E Menyediakan lingkungan yg kondusif
E Mempertimbangkan intervensi mana yang dapat digabungkan
Pengumpulan data yang terus menerus
Anda telah merumuskan renpra dan melaksanakannnya, pantau pasien tersebut untuk mengumpulkan data tambahan
Saat bicara dengan pasien, perhatikan perubahan nada suara dan ekspresi
Atau Ketika melakukan backrub perhatikan abnormalitas area koksigis yang memerah. Semua data ini dicatat dan maknanya divalidasi.
Informasi ini digunakan untuk membuat keputusan mengenai kebutuhan u/ tujuan yang baru, hasil, intervensi, dan memprioritaskan kembali renpra selama proses evaluasi.
DOKUMENTASI
Semua tatanan perawatan kesehatan secara hukum perlu mencatat observasi keperawatan, perawatan yang diberikan, dan respons pasien.
Berfungsi sebagai alat komunikasi dan sumber untuk membantu dalam menentukan keefektifan perawatan dan untuk membantu menyusun prioritas keperawatan berkesinambungan
Komunikasi Verbal dengan Tim Perawatan
Melaporkan kepada perawatan lain
Meninjau dengan dokter
Membahas dengan sumber-sumber lain (pekerja sosial, ahli gizi, fisioterapis)
Cara penyampaian informasi dapat mempengaruhi cara dimana informasi didengar sehingga dapat mempengaruhi kualitas perawatan yang diberikan
Sajikan informasi dalam cara objektif dan akurat E menurunkan kemungkinan salah paham atau secara negatif mempengaruhi perawatan pasien
Hindari bahasa penilaian
Contoh:
Ketika Samy berbicara dengan perawat, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai pemulangan, perawat tersebut melaporkan informasi ini kepada personel shift berikutnya dan kepada dokter dengan mengatakan: “ Saya pikir Samy mencoba untuk memanipulasi kita. Ia mengatakan ia belum siap untuk pulang dan ia pikir jika dia”beertindak lemah”, ia tidak boleh meninggalkan rumah sakit.
Setelah mendengarkan laporan yang berupa penilaian ini, respons perawat shift berikutnya mungkin denganabawah sadarnya berhenti mendengarkan dan sepertinya kurang menanngapi apa yang dikatakan oleh Samy.
Bandingkan dengan contoh berikut:
Jika perawat melaporkan: “Samy telah mengungkapkan kekhawatierannya tentang kemmpuannya untuk meangani di rumah. Dia tampak lemah ketika kami membangunkannya pagi ini, memerlukan bantuan berjalan. Kemudian dia menghabiskan waktu sorenya dengan berbicara di telepon, mengabaikan tangisan bayinya sampai saya masuk ke ruangan. Kami perlu informasi tentang situasinya di rumah dan kebutuhannya untuk bantuan merawat bayinya yang baru lahir.
Laporkan:
Abnormalitas/perubahan dalam temuan pengkajian
Prosedur diagnostik dan hasilnya
Variasi dari hal-hal biasa
Aktivitas belum selesai dalam shift Anda
Status pengobatan invasif
Menambah atau mengubah renpra (meliputi evaluasi hasil dan status masalah pasien)
Laporan Pergantian Shift meliputi:
Ronde keperawatan
Kerahasiaan pasien sangat penting dipertahankan
Tidak melibatkan orang-orang yang tidak terlibat dalam perawatan pasien (mis: staf dari unit lain, kelg Anda sendiri, teman dan kenalan pasien)
lihat artikel selengkapnya - TAHAP IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
IKLAN2

Koordinasi

IKLAN1
Upaya menyatupadukan berbagai sumber daya dan kegiatan organisasi menjadi suatu kegiatan sinergis, agar dapat melakukan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan terpadu sehingga sasaran yang direncanakan dapat tercapai secara efektif dan efisien serta harmonis.
lihat artikel selengkapnya - Koordinasi
IKLAN2

Kontap = Kontrasepsi mantap

IKLAN1
Suatu tindakan untuk membatasi kelahiran dalam jangka waktu yang tidak terbatas, yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami isteri atas permintaan yang bersangkutan, secara sukarela
lihat artikel selengkapnya - Kontap = Kontrasepsi mantap
IKLAN2

Kontraindikasi

IKLAN1
Pantangan atau keadaan yang sangat dianjurkan untuk tidak dilakukan pengobatan jika kondisi tertentu dialami pasien
lihat artikel selengkapnya - Kontraindikasi
IKLAN2

Konseling Gizi

IKLAN1
Serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi 2 (dua) arah untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan prilaku sehingga membantu klien/pasien mengenali dan mengatasi masalah gizi yang dilaksanakan oleh nutrisionis/dietisien. (Sumber : Buku Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit Departemen Kesehatan RI 200)
lihat artikel selengkapnya - Konseling Gizi
IKLAN2

Konsultasi

IKLAN1
Pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan yang sebaik-baiknya
lihat artikel selengkapnya - Konsultasi
IKLAN2